Rabu, 29 Desember 2010

Mahali Jasuli

Nama Lengkap : Mahali bin Jasuli

Lahir : Selangor, 2 April 1989

Posisi : Bek kanan

Tinggi/ Berat : 177 cm/

No kostum : 18 (Selangor FA) & 2 (Timnas)

Orangtua : Jasuli (Ayah/Indonesia) dan Masyurah (Ibu/Indonesia)

Karir klub :
2007-2009 Harimau Muda B
2009-2012 Harimau Muda A
2012-skrg Selangor FA

Timnas :
- Malaysia U-19 (22 caps/1 gol)
- Malaysia U-21 (19 caps/0 gol)
- Malaysia U-23 (16 caps/1 gol)
- Malaysia (28 caps/2 gol)

Gelar timnas :
- Juara Piala AFF 2010
- Medali emas SEA Games 2009, 2011 (Timnas U-23)


Kabar Berita dan Wawancara Eksklusif :
Dari 23 nama di skuad Malaysia yang terdaftar di Piala AFF 2010, ternyata ada satu nama yang punya darah Indonesia. Dia adalah Mahali Jasuli.

Defender berumur 22 tahun itu anak dari pasangan Indonesia. Ayahnya seorang pendatang asal Bawean, Gresik, Jawa timur. Sampai saat ini pun, paspor yang dipegang ayahnya juga masih Indonesia.


Akan tetapi Mahali mengaku lahir di Malaysia. Dia juga menempuh pendidikan di negeri Jiran. Saat ini pun, paspor yang dia pegang juga Malaysia.


“Aku sejak kecil juga memperkuat tim Malaysia. Saat ini aku tampil bersama Harimau Muda," kata Mahali.


Level timnas sejatinya bukan pengalaman baru buat pemain bernama lengkap Mahali bin Jasuli tersebut. Sejak 2008, dia sudah merasakannya. Saat itu
, dia dipanggil untuk memperkuat timnas Malaysia U-18, U-19 hingga akhirnya ke U-23 dan dipercaya pada tim Piala AFF 2010.

Mahali juga salah satu pemain yang dipercaya turun saat Manchester United melawan timnas Malaysia, pada 2009 lalu.


Lantas bagaimanakah perasaan dia ketika harus bertanding melawan negeri ayahnya? “Tidak ada perbedaan sama sekali. Aku merasa melawan tim-tim lain yang pernah aku hadapi selama ini,” tambah bek bertubuh gempal ini.


Hanya saja, Mahali mengakui tak mudah mengalahkan Indonesia. Menurutnya, Merah Putih memiliki pemain pemain yang hebat di semua posisi. “tapi kami akan berusaha memenangkan pertandingan final nanti,” kata dia.


- Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam Pulau Bawean
Media cetak, online ataupun elektronik sudah ramai memberitakan bahwa pemain timnas Malaysia Mahali Jasuli nomor 18 berasal dari keturunan Indonesia, tepatnya di Kampung Gelam, kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Berikut hasil liputan Media Bawean berkunjung menemui keluarga besarnya Mahali Jasuli di Gelam, selasa (28/12).

Mahali Jasuli adalah keturunan warga Pulau Bawean yang dilahirkan di Malaysia, ayahnya bernama Jasuli dan ibunya bernama Masyurah (kedua orang tuanya lahir di Pulau Bawean).

Hj. Fatma adalah nenek Mahali Jazuli dari ibunya, ditemui Media Bawean menyatakan gembira dan bangga mempunya cucu bisa membawa nama baik keluarga besarnya terkenal, walaupun bermain memperkuat timnas Malaysia bukan timnas Indonesia, dengan alasan Mahali Jasuli dilahirkan di Malaysia.

"Mahali Jasuli dari sejak kecil sudah gemar bermain sepak bola, bakatnya diturunkan dari ayahnya bukan ibunya,"katanya sambil menunjukkan foto kecil Mahali Jasuli bersama ayahnya ditengah lapangan sepak bola.

"Sudah 14 tahun Mahali Jasuli bergabung dalam club olahraga di Malaysia, sekarang mencapai puncak prestasinya sebagai pemain timnas Malaysia,"ujarnya.

Menurut pengakuan Hj. Fatma, ketika Mahali Jasuli mengikuti pertandingan Piala AFF 2010, dirinya bersama keluarganya tidak pernah absen menonton televisi. Ketika Mahali Jasuli kelihatan dilayar televisi, "denyut jantung nadi langsung bergerak memberikan dukungan, saat terjatuh ada rasa khawatir luar biasa,"terangnya.

Apakah orang kampung Gelam mengetahui Mahali Jasuli mengikuti Timnas Malaysia? "Yach, semua orang Gelam sudah mengetahui, sebelumnya melalui ibunya di Malaysia selalu mengirimkan majalah atau koran yang memuat berita Mahali Jasuli,"paparnya.

Ketika Indonesia melawan Malaysia, mendukung yang mana? "Sebagai warga negara Indonesia mendukung Indonesia, sebagai nenek dari Mahali Jasuli mendukung Malaysia,"jawabnya diplomatis.

Setujukah bila Mahali Jasuli diminta sebagai pemain timnas Indonesia? "Terserah kepada Mahali Jasuli, sebagai nenek yang baik memberikan kebebasan sepenuhnya kepada cucunya untuk memilih sesuai kesukaannya. Apalagi Mahali Jasuli dilahirkan di Malaysia bukan di Indonesia,"jelasnya.

"Pesan buat Mahali Jasuli, bila selesai pertandingan agar pulang ke Pulau Bawean untuk menjenguk nenek dan keluarga,"harapan H. Fatma kepada cucu tercintanya..

Sahmawi (39 th.) adik Jasuli sebagai Paman Mahali Jasuli ditemui Media Bawean, menyatakan bahwa bakat yang diturunkan kepada Mahali Jasuli berasal dari keluarga laki-laki. "Sebagian besar saudara laki-laki memang pandai bermain sepak bola,"tuturnya singkat.

- Darah Indonesia di Malaysia

MALAYSIA ternyata lebih dulu menggunakan pemain naturalisasi ketimbang Indonesia. Uniknya, jika rata-rata negara Asia Tenggara melakukan naturalisasi dari negara Eropa, Afrika, atau Amerika Latin, negara Malaysia justru memilih Indonesia.
Dia adalah Mahali Jasuli. Orang tua Mahali, yakni Jasuli (ayah) dan Nasirah (ibu), adalah WNI asal Kepulauan Bawean, Gresik, Jawa Timur, yang sudah lama menetap dan bekerja di Malaysia. Namun, menurut Jasuli, kata naturalisasi sebenarnya tidak tepat disematkan kepada anaknya. Pasalnya, Mahali yang kini menjadi anggota skuat Malaysia telah menjadi warga negara Malaysia karena didaftarkan orang tuanya sejak lahir. "Ayah dan Ibu saya adalah WNI. Namun, saya dan kedua orang adik saya bukanlah WNI. Sebab kami sejak kecil sudah didaftarkan sebagai warga negara Malaysia," ujar Mahali, kemarin.
Malaysia menganut asas ins soli atau hak mendapatkan kewarganegaraan yang dapat diperoleh individu berdasarkan tempat lahir di wilayah suatu negara.
Soal pertandingan final AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) Suzuki Cup 2010 yang mempertemukan negaranya dengan negara kedua orang tuanya, Mahali menganggap itu sebagai sesuatu yang lumrah. "Orang tua saya selalu mendukung saya selama membela tim nasional Malaysia. Mereka bahkan pendukung setia tim bola sepak negara. Saya anggap pertemuan nanti sebagai sesuatu yang biasa."
Pemain kelahiran, Selayang, 2 April 1989 ini sejak kecil memang sudah bergaul akrab dengan olahraga yang satu ini. Ketika masih berumur tiga tahun, ia diajak ayahnya ke Desa
Gelam, Bawean, Gresik, karena sang ayah harus mengikuti pertandingan sepak bola dalam rangka 17 Agustus.
Bakat Mahali dalam mengolah si kulit bundar semakin terasah karena kedua orang tuanya sangat mendukungnya menggeluti sepak bola. Ketika masih berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 sekolah rendah (SD), Mahali sudah mewakili berbagai kejuaraan antarsekolah.
Kemampuannya semakin berkembang sejak mengikuti tim Harimau Muda A (tim nasional di bawah 21 tahun) mulai 2007. Meski merupakan tim nasional, tim ini ikut diper-tandingkan dalam kompetisi lokal Liga Primer Malaysia (Divisi II).
Pada 2009, Harimau Muda A yang kala itu juga dibesut pelatih tim nasional Malaysia K Rajagopal menjadi juara Liga Primer Malaysia. Mahali masuk skuat yangmembawa Harimau Muda A meraih gelar itu.
Ketika Malaysia berlaga di SEA Games 2009, Rajagopal kembali memanggil Mahali. Malaysia akhirnya keluar sebagai juara SEA Games yang berlangsung di Laos itu setelah mengalahkan Vietnam.
"Meraih medali emas SEA Games 2009 merupakan pengalaman berkesan saya. Tahun 2010, kami berlatih dan berkompetisi bersama timnas U-23 di Divisi Dua Slovakia. Ini termasuk pengalaman besar dalam karier saya. Meski hanya menang tiga kali dan harus menelan kekalahan 10 kali, saya menerima banyak penge-fahuan baru."

Galeri Foto :
Mahali (18) berduel dengan Okto di final leg pertama Piala AFF 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar